MetroPapua News, Sumatera Barat – Di bawah naungan tenda-tenda pengungsian yang tersebar di seluruh provinsi, ribuan warga Sumatera Barat berjuang untuk memulihkan kehidupan mereka setelah bencana banjir lahar dingin yang menghancurkan. Di tengah upaya pemulihan ini, muncul kekhawatiran baru: ancaman penyakit yang mengintai para pengungsi.

Laporan terkini menunjukkan bahwa pengungsi menghadapi risiko tiga gelombang penyakit, yang meliputi infeksi menular hingga stres pascatrauma. Para ahli kesehatan menyatakan keprihatinan atas potensi munculnya infeksi saluran pernapasan akut, gangguan pencernaan, penyakit kulit, demam, sakit kepala, dan hipertensi. Penyakit seperti leptospirosis, tetanus, dan hepatitis A juga berpotensi muncul sebagai ancaman kedua.

Kondisi sanitasi yang tidak memadai, akses yang terbatas pada air bersih, dan kerumunan pengungsi yang padat memperburuk risiko penyebaran penyakit. Situasi ini diperparah oleh trauma psikologis yang dialami pengungsi akibat kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggal mereka.

Pemerintah daerah dan pusat telah bergabung untuk memenuhi kebutuhan mendesak para pengungsi. Inisiatif seperti penyediaan fasilitas kesehatan darurat, distribusi bantuan medis, dan pendampingan psikologis sedang dilakukan untuk mencegah wabah penyakit dan mendukung pengungsi dalam mengatasi trauma mereka.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Baca Juga: Update Terkini Bencana Banjir Lahar Dingin di Sumatra Barat

Namun, tantangan belum berakhir. Curah hujan yang terus-menerus meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan bencana susulan dan memperburuk kondisi di pengungsian. Pengungsi menyampaikan ketakutan mereka terhadap hujan yang dapat memicu bencana lain.

Dalam ketidakpastian yang mendalam ini, solidaritas dan dukungan dari semua pihak menjadi sangat penting. Bantuan kemanusiaan, baik materi maupun non-materi, sangat dibutuhkan untuk membantu pengungsi melalui masa sulit ini.

Saat ini, jumlah pengungsi yang terdampak oleh banjir lahar dingin di Sumatra Barat telah mencapai 3.198 orang. Bencana ini terutama mempengaruhi wilayah hulu Gunung Marapi, dengan empat kabupaten yang paling parah terdampak: Agam, Tanah Datar, Padang Panjang, dan Padang Pariaman.

Pemerintah setempat, bersama dengan lembaga kemanusiaan, terus memberikan bantuan dan dukungan kepada mereka yang terkena dampak bencana. Harapan bersama agar situasi segera membaik dan pengungsi dapat kembali ke kehidupan yang lebih aman dan stabil. (F/N)

https://metropapua-news.com/aturan-baru-bpjs-kesehatan-dan-penerapan-kelas-rawat-inap-standar-kris/